5 Paradigma Keuangan Rumah Makan (Wajib Dikontrol)

Paradigma Mengelola Keuangan Usaha Rumah makan Yang Wajib Dikontrol

 

Rumah Makan (Warung) Tegal, Rumah Makan Sunda dan Rumah Makan Padang yang melegenda dan menguasai (mendominasi) seluruh kuliner Nusantara, ketiga jenis kuliner tradisional Indonesia tersebut terdapat beberapa kekurangan dan kelemahan dilihat dalam paradigma (sudut pandang) menejemen keuangan usaha rumah makan yang wajib di kontrol,  secara khusus kemungkinan besar lebih maju apabila pengelolaan keuangan secara proporsional, pengelolaan keuangan umumnya masih tradisional yaitu uang ditaruh di laci kayu slorotan. Artikel ini sekedar memberikan ulasan keberadaan secara umum, diharapkan dapat lebih mendongkrak kemajuan kuliner tradisional Asli Indonesia tersebut di atas tetap jaya di bumi nusantara tercinta.

Menu makanan tradisional yang menyajikan makanan dan pelayanan yang mencerminkan beberapa  karakter seperti masyarakat daerah Tegal, Sunda dan Padang, sajian yang disuguhkan umumnya tidak spesifik, terdiri dari banyak ragam sayur dan lauk namun ada dua-tiga menu yang mencerminkan ke daerahan tersebut. Namun jarang pengawasan atau memantaunya dalam segi pundi keuangan yang tertera di bawah ini.

 

5 Paradigma Keuangan Usaha Rumah Makan yang Wajib Dikontrol

 

  1. Paradigma Keuangan Hasil Usaha yang di Jalani – Paradigma Keuangan  Rumah Makan

Pada umumnya rumah (contoh pemilik usaha rumah makan Tegal) tinggal yang di kampung halamannya dibangun dengan lumayan megah dan kekar, bila sukses ……dibangun sepertinya tahan granaaat atau bom molotov kalee yeee….hehehehee dalam rumah para anggota keluarga masing-masing mempunyai motor sendiri dan termasuk kedua Orang tuanya misalnya dalam keluarga mempunyai putra/putri lima berarti motor ada lima ditambah Bapak dan Ibu dua  dijumlahkan menjadi tujuh motor ditambah lagi kendaraan roda empat (mobil) satu atau dua. Tapiiii……sayaaaaang….saaayang…sayaaaang seriiibu kaliii saaayaang (cuplikan lagu fatwa pujangga dari Mashabi….heheheee), bila saatnya merantau dagang ke Kota seperti Jakarta dan Kota lainnya se isi rumah sepi serta kendaraan di parkir berbulan bulan bahkan setahun, di rumah nan megah itu seperti kuburan tiada berpenghuni.

Apabila sedang hoki…..hokinya …. (nasib mujur) mempunyai kontrakan warung tiga bergiliran tiap empat bulan bergilir kemungkinan beberapa hari pulang ke rumah paling  lama sekitar 1-2 minggu/4 bulan istirahat lanjut berangkat lagi untuk dagang ke warung kontrakan ke-dua, begitu selanjutnya seringnya sieh enggan pulkam.  Tinggal lama di rumah nan megah dikampung tersebut mungkin saat lebaran Iedul Fitri lebih-kurang  1- 1,5 bulan, apalagi ditambah beberapa hari sanak, saudara dan handaitaulan mempunyai hajatan, biasanya waktu habis lebaran karena para pebisnis warung tegal (warteg) hampir 90 % seluruhnya mudik, saat Hari Raya Iedul Fitri.

 

  1. Paradigma Keuangan Minim Peduli Kesehatan – Paradigma Keuangan Rumah Makan

Kurangnya memperhatikan kesehatan seperti keseimbangan antara usaha rumah makan/kerja, istirahat dan olahraga serta wisata sekaligus studi banding usaha kulinernya.

Umumnya sebelum usia pensiun sudah bermasalah pada kesehatannya terutama majikan seperti penyakit diabetes, gagal ginjal, jantung  dan komplikasi penyakit lainnya.

 

  1. Paradigma Keuangan Sering kali TONGKAT (entong duite mangkat)

Penghasilan usaha sering kali  TONGKAT (istilah beken warteg) saat ini dibelanjakan sampai kehabisan, esok mencari lagi lupa menabung jangka panjang.

Bila sedang tidak mendapat giliran dagang bisa mengisi waktu dengan ada yang bertani kalau yang ahli atau nganggur, kebanyakan sieh nganggur karena bertani bukan keahliannya, dalam perhitungan ekonomi akan habis uang hasil dagang empat bulan untuk makan sehari-hari dan keperluan lainnya alias “tongkat “ (entong duite mangkat), bila ada sanak yang menyerepkan untuk usaha rumah makannya.

  1. Paradigma Keuangan dengan Jasa Keuangan yang Ilegal – Paradigma Keuangan Rumah Makan

Sering memenuhi seisi warung bahakan kebutuhan rumah di kampungnya dengan cara mencicil seperti kulkas, kipas angin, televisi, roda empat/dua. Seandainya beli dengan uang cash bisa dapat dua – tiga barang yang sama, yang lebih horor lagi terkadang mabuk kepahyang untuk membayar cicilan alias hutang bahkan rumah nan megahnya hilang lenyap untuk membayarnya.

 

  1. Paradigma Keuangan Usaha Rumah Makan Lambat Berkembang (melebarkan sayapnya) – Paradigma Keuangan Rumah Makan

Umumnya usaha rumah makan yang memikirkan dengan keras beli tempat usaha kebanyakan ngontrak bila si empunya kontrakan enggan dikontrakan lagi secara otomatis akan hengkang padahal saat itu pelanggan banyak, mencari lagi kontrakan terkadang lama mendapat kontrakan baru, buat warung yang akan dagang dari nol lagi karena tempat baru dan mencari pelanggan baru.

Finansial usaha rumah makan yang perlu digaris bawahi masih berbudaya minjam atau hutang di bank bank atau lebih seremnya waw…..horor kalee yee……. ke renteninir serta barang keperluan di warung atau buat di rumah kampung halamannya seperti kendaraan roda dua dan empat yang dibeli umumnya dengan mencicil jarang sekali beli cash, menjadikan hal tersebut sebagai budaya.

Seandainya tanpa riba atau cicilan bank atau tukang kredit kemungkinan ekonomi akan meningkat lagi berkah dan banyak uang bisa membeli Ruko buat warung atau rumah makan dan restauran milik pribadi tanpa diusir atau dinaikkan harga kontrakannya dengan nominal yang bikin tercengang cengan akibat kemahalan si empunya kontrakan.

 

Bisa di baca artikel yang berhubungan, tentang :
7 Kunci Sukses Memulai Bisnis Rumah Makan
Asal Muasal Nama Warung Tegal yang Fenomenal
30 daftar peralatan rumah makan yang wajib
Menghitung Modal Usaha Rumah Makan
Inilah Penyebab Masakan Tidak Enak Yang Mungkin Kamu Tidak Tahu!

Point penutup artikel diharapkan pemilik usaha dapat menyoroti pundi keuangan seperti untuk mengembangkan usaha (agar berkembang) beberapa persen bagian disisihkan untuk di tabung, harus memperhatikan kesehatannya pemilik dan karyawan,  ada baiknya pahami istilah tongkat (entong mangkat) duit simpenan hasil usaha telah menipis baru berangkat…tabungan habis juga, dan jauhi hubungan dengan ….kita putus dengan tukang kredit, rentenir, dan yang sejenisnya…….okay Bro……… jasa keuangan ilegal serta kuatkan tekad untuk memiliki  tempat usaha.

Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi kepada pemilik usaha yang dijalani, khususnya  usaha kuliner.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *